Siswi SMK 'Dipegang' Dadanya dan Diciumi di Pos Polisi Saat Kena Tilang

Siswi SMK 'Dipegang' Dadanya dan Diciumi di Pos Polisi Saat Kena Tilang

Ternyata bukan hanya DSS(16) yang menjadi korban pelecehan yang dilakukan oleh Polantas Polres Kota Batu Jawa Timur. Dan kini seorang lagi Siswi SMAN 1 Kota Batu kelas dua melapor ke Propam Polres Batu didampingi sejumlah aktifvs Yayasan Ujung Aspal Kota Batu. Karena mendapatkan pelecehan seksual oknum Polantas Polres Batu di pos alun-alun Kota Batu.


Siswi berinisial SRP (17), warga Desa Sebaluh, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, ternyata mendapat pelecehan yang sama di pos polisi tersebut. Bahkan SRP sempat 'dipegangi' dadanya dan diciumi pipinya di dalam ruangan gelap yang ada di pos tersebut.
Menurut SRP, kejadian itu terjadi pada sepulang sekolah. Ia berencana ikut merayakan Ulang Tahun teman di Batu Towen Square (BATOS) dan masih berseragam Sekolah. Ia di bonceng oleh temannya Jeremi (16) warga Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu.
Namun, Ia dan Jeremy dihentikan Polantas karena tidak pakai helm di pos polisi perempatan jalan Dewi Sartika dan Jalan Patimura Kota Batu. Saat itu, Jeremy diperiksa dokumen sepeda motor yang dikendarainya. Karena Jeremi mengaku STNKnya hilang, merekapun diminta datang ke pos Alun-alun Kota Batu untuk menyelesaikan administrasi pelaporan STNK.
Pada saat Jeremy mengurus administrasi kehilangan STNK di ruang depan pos Polantas Alun-alun, dua oknum Polantas memanggilnya dan memegangi lemtex logo nama RSP dan seolah sengaja pegangan tersebut diarahkan untuk menyentuh dadanya.
Sambil bercanda, dua oknum Polantas itupun memintanya masuk ke dalam ruang gelap yang ada di bagian belakang pos. Dalam ruang gelap itulah, salah satu oknum Polantas menciumi pipinya dan satu oknum Polantas hanya melihat.
"Kami diperlakukan tidak senonoh seperti itu tidak berani teriak karena takut sekali, dan pak polisi satunya hanya lihat sambil bilang kalau dirinya iri juga lihat itu," ujar RSP sebelum menjalani pemeriksaan di Propam Polres Batu.
Sekitar 15 menit ada di ruang gelap belakang Pos Polantas Alun-alun Batu, dirinya dirinya baru diperbolehkan keluar menemui kembali Jeremy yang sudah selesai mengurus administrasi STNK.
"Setelah itu saya cerita pada Jeremi dan kamy pulang tanpa berani memberitahukan kejadian itu pada siapapun," ucap SRP.
Dirinya, aku Jeremy, cukup terkejut dengan pengakuan SRP kalau sempat mendapat perlakuan tidak senonoh dari oknum Polantas ketika ditinggal mengurus administrasi STNK yang hilang di ruang pos depan Alun-alun Kota Batu dengan membayar Rp. 150 ribu.Dan atas pengakuan itupun, dirinya tidak berani bercerita kepada siapapun, termasuk SRP yang diam atas apa yang dialaminya.
Setelah apa yang menimpa DSS tersiar di media sosial, barulah SRP berani menceritakan pelecehan yang dialaminya.
"Akhirnya pagi tadi saya cerita pada ayah saya kasus serupa yang menimpa teman sekolah saya SRP ketika di pos Alun-alun Kota Batu itu," kata Jeremy.
Sementara Aktifis Yayasan Ujung Aspal Kota Batu, Soejarjono Fransk sangat aneh di pos Polantas ada ruang temaram cenderung gelap di belakang pos yang seolah sengaja disediakan untuk melakukan tindakan pelecehan pada kaum perempuan pelanggar lalu lintas.
"Ini harus bisa disikapi serius, dan kami telah melapor ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atas kasus tersebut," tutur Soeharjono